Jumat, 20 Januari 2012

Tentang Negara Zionis Israel


Siapa yang tidak kenal Israel. Mendengar namanya saja sudah membuat darah kita sebagai seorang Muslim bergelora, terutama setelah penyerangan besar-besaran yang dilakukan Israel terhadap saudara-saudara kita yang ada di Palestina, tapi siapa sih sebenarnya bangsa Israel itu? Berikut adalah “Asal Usul Bangsa Israel” yang aku kutip dari eramediaislami.com :
Nama Yahudi barangkali diambil dari Yehuda. Yehuda adalah salah seorang putra nabi Yakub (Kejadian 29: 22) yang kemudian hari dijadikan nama salah satu kerajaan Israel yang pecah menjadi dua, setelah Solomon (Sulaiman) meninggal (1 Raja-Raja 12). Sedangkan nama Israel adalah nama yang diberikan Tuhan kepada Yakub, setelah Yakub memenangkan pergulatan melawan Tuhan (Kejadian 32:28). Karena dosa-dosanya yang sudah tidak termaafkan lagi, bangsa Israel ini dihukum oleh Tuhan dengan menghancurkan kerajaan yang mereka miliki (2 Raja-Raja 17:7-23).

Bangsa Yahudi sangat terobsesi oleh kitab suci mereka, bahwa hanya merekalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Tuhan untuk menguasai dunia ini. Bukankah Tuhan juga yang menyatakan kepada nenek moyang mereka Ibrahim, bahwa dari keturunan Ibrahimlah Tuhan akan menurunkan raja-raja didunia ini. Bagi mereka, keturunan Ibrahim hanyalah anak cucu yang lahir dari Sarah, isteri pertama Ibrahim, sehingga keberadaan Ismael anak sulung Ibrahim dari Hajar, dianggap tidak ada. Atas kecongkakkan dan kesombongan ini, Tuhan murka kepada bani Israel. Beratus-ratus tahun mereka menjadi warga negara kelas kambing yang tertindas di negeri Firaun. Setelah Musa berhasil membawa mereka keluar dari Mesir, bangsa Israel sempat mempunyai kerajaan yang dibangun oleh Daud dan mencapai masa keemasannya ditangan Solomon. Kerajaan yang kemudian pecah menjadi dua karena intrik anak-anak Solomon, lalu menjadi lemah dan akhirnya mereka dijajah oleh Firaun Nekho (2 Raja-Raja 23:31-35). Diusir sebagai orang buangan oleh Nebukadnezar bangsa Babilonia (2 Raja-Raja 25:1-21). Dijajah oleh Romawi. Dimusnahkan oleh Nazi, Jerman. Kesemuanya itu adalah hukuman Tuhan, kepada bangsa yang oleh Yesus (Isa al Masih) disebut sebagai keturunan bangsa ular beludak (Matius 23:33). Hukuman tersebut tidak membuat mereka jera, dan bertobat. Malah menjadikan dendam kesumat dihati bangsa ini untuk melawan Tuhan, Allah Maha Pencipta.

Kecongkakkan mereka dengan menganggap diri sebagai bangsa pilihan Tuhan satu-satunya yang berhak memerintah dunia ini, membuat mereka dengan sombongnya bersumpah, untuk memerangi agama lain selain agama mereka dengan segala cara, persis ketika Iblis bersumpah kepada Tuhan untuk memperdayai anak cucu Adam, sampai dunia kiamat nanti. Tuhanpun memperingatkan ummat Islam, melalui Al-Quran untuk berhati-hati terhadap tipu daya Yahudi ini.

Pegangan mereka adalah kitab Talmud. Yang merupakan kitab setan, karena sangat jauh menyimpang, bahkan mungkin bertolak belakang dengan ajaran Taurat. Nabi Daud AS, yang juga raja, menaklukkan bukit Zion yang merupakan benteng dari kaum Yabus. Nabi Daud AS tinggal di benteng itu dan diberinya nama: “bandar Daud” (Samuel II 5:7-9)

Sejak itu maka Zion menjadi tempat suci, dikeramatkan orang-orang Yahudi yang mereka percayai bahwa Tuhan tinggal di tempat itu: “Indahkanlah suaramu untuk Tuhan Yang menetap di Zion” (Mazmur 9:11).

Zionisme ialah gerakan orang-orang Yahudi yang bersifat ideologis untuk menetap di Palestina, yakni di bukit Zion dan sekitarnya. Walaupun Nabi Musa AS tidak sampai pernah menginjakkan kaki beliau di sana, namun orang-orang Yahudi menganggap Nabi Musa AS adalah pemimpin pertama kaum Zionis.
Untuk mencapai cita-citanya, Zionisme membangkitkan fanatisme kebangsaan (keyahudian) , keagamaan dengan mempergunakan cara kekerasan untuk sampai kepada tujuannya. Zionisme memakai beberapa tipudaya untuk mengurangi dan menghilangkan sama sekali penggunaan kata “Palestina”, yakni mengganti dengan perkataan-perkataan lain yang berkaitan dengan sejarah bangsa Yahudi di negeri itu. Digunakanlah nama “Israel” untuk negara yang telah didirikan oleh mereka, sebab Zionisme di Palestina identik dengan kekerasan, kezaliman dan kehancuran. Kaum Zionis mengambil nama Israel adalah untuk siasat guna mengelabui dan menipu publik, bahwa negara Israel itu tidak akan menggunakan cara-cara yang biasa digunakan oleh kaum Zionis. Pada hal dalam hakikatnya secra substansial tidaklah ada perbedaan sama sekali antara Israel dengan Zionisme. Israel sendiri berasal dari dua kata, isra mempunyai arti hamba, dan ell berarti Allah.
Secara substansial protokol Zionisme adalah suatu konspirasi jahat terhadap kemanusiaan. Protokol berarti pernyataan jika dinisbatkan kepada para konseptornya, dan berarti laporan yang diterima serta didukung sebagai suatu keputusan jika dikaitkan pada muktamar di Bale, Switzerland, tahun 1897, yang diprakarsai oleh Teodor Herzl.

Protokol-protokol itu yang sebagai dokumen rahasia disimpan di tempat rahasia, namun beberapa diantaranya dibocorkan oleh seorang nyonya berkebangsaan Perancis yang beragama Kristen dalam tahun 1901. Dalam perjumpaan nyonya itu dengan seorang pemimpin teras Zionis di rumah rahasia golongan Mesonik di Paris, nyonya itu sempat melihat sebagian dari protokol-protokol itu. Nyonya itu sangat trperanjat setelah membaca isinya. Ia berhasil mencuri sebagian dari dokumen rahasia itu, yang disampaikannya kepada Alex Nikola Nivieh, ketua dinas rahasia Kekaisaran Rusia Timur.

Sebagian kecil dari protokol-protokol Zionisme itu akan disampaikan seperti berikut:
  1. Manusia terbagi atas dua bagian, yaitu Yahudi dan non-Yahudi yang disebut Joyeem, atau Umami. Jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni. Kaum Umami berasal-usul dari syaithan, dan tujuan penciptan Umami ini untuk berkhidmat kepada kaum Yahudi. Jadi kaum Yahudi merupakan pokok dari anasir kemanusiaan sedangkan kaum Umami adalah sebagai budak Yahudi. Kaum Yahudi boleh mencuri bahkan merampas harta benda kaum Umami, boleh menipu mereka, berbohong kepada mereka, boleh menganiaya, boleh membunuh serta memperkosa mereka. Sesungguhnya tabiat asli kaum Yahudi ini bukan hanya ada disebutkan dalam protokol dokumen rahasia Zionis tersebut, melainkan ini adalah warisan turun temurun sejak cucu Nabi Ibrahim AS dari jalur Nabi Ishaq AS ini mulai mengalami dekadensi (baca: busuk ke dalam), yaitu sepeninggal Nabi Sulaiman AS. Ini diungkap dalam Al Quran (transliterasi huruf demi huruf): QALWA LYS ‘ALYNA FY ALAMYN SBYL (S. AL ‘AMRAN, 75), dibaca: qa-lu- laysa ‘alayna- fil ummiyyi-na sabi-l (s. ali ‘imra-n), artinya: mereka berkata tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (3:75).
  2. Protokol Zionisme tentang faham jiwa-jiwa Yahudi dicipta dari jiwa Tuhan, hanya mereka sajalah anak-anak Tuhan yang suci-murni, sangatlah menyimpang dari syari’at yang dibawakan oleh Nabi Musa AS. Mereka yang menyimpang inilah yang dimaksud dengan almaghdhu-b, artinya yang dimurkai dalam Surah Al Fa-tihah ayat 7.
  3. Protokol-protokol Zionisme itu merancang juklatnya dengan menye-barkan faham-faham yang bermacam-macam. Faham yang mereka tebarkan berbeda dari masa ke masa. Suatu waktu mempublikasikan sekularisme kapitalisme, suatu waktu menebar atheisme komunisme, suatu waktu berse-lubung agnostik sosialisme. Untuk menebarkan pengaruh internasional, protokol-protokol itu antara lain berisikan perencanaan keuangan bagi kerajaan Yahudi Internasional yang menyangkut mata uang, pinjaman-pinjaman, dan bursa. Media surat kabar adalah salah satu kekuatan besar dan melalui jalan ini akan dapat memimpin dunia. Manusia akan lebih mudah ditundukkan dengan bencana kemiskinan daripada ditundukkan oleh undang-undang.
Pada tahun 1902 dokumen rahasia Zionis itu diterbitkan dalam bentuk buku berbahasa Rusia oleh Prof. Nilus dengan judul ‘PROTOKOLAT ZIONISME’. Dalam kata pengantarnya Prof. Nilus berseru kepada bangsanya agar berhati-hati akan satu bahaya yang belum terjadi. Dengan seruan itu terbongkarlah niat jahat Yahudi, dan hura-hura pun tak bisa dikendalikan lagi, dimana saat itu telah terbantai lebih kurang 10.000 orang Yahudi. Theodor Herzl, tokoh Zionis Internasional berteriak geram atas terbongkarnya Protokolat mereka yang amat rahasia itu, karena tercuri dari pusat penyim-panannya yang dirahasiakan, dan penyebar-luasannya sebelum saatnya akan membawa bencana. Peristiwa pembantaian atas orang-orang Yahudi itu mereka rahasiakan. Lalu mereka ber-gegas membeli dan memborong habis semua buku itu dari toko-toko buku. Untuk itu, mereka tidak segan-segan membuang beaya apa saja yang ada, seperti ; emas, perak, wanita, dan sarana apa saja, asal naskah-naskah itu bisa disita oleh mereka.
Mereka menggunakan semua pengaruhnya di Inggris, supaya Inggris mau menekan Rusia untuk menghentikan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi di sana. Semua itu bisa terlaksana setelah usaha yang amat berat.
Pada tahun 1905 kembali Prof. Nilus mencetak ulang buku itu dengan amat cepat dan mengherankan. Pada tahun 1917 kembali dicetak lagi, akan tetapi para pendukung Bolshvic menyita buku protokolat itu dan melarangnya sampai saat ini. Namun sebuah naskah lolos dari Rusia dan diselun-dupkan ke Inggris oleh seorang wartawan surat kabar Inggris ‘The Morning Post’ yang bernama Victor E.Mars dan dalam usahanya memuat berita revolusi Rusia. Ia segera mencarinya di perpustakaan Inggris, maka didapatinya estimasi tentang akan terjadinya revolusi komunis. Ini sebelum lima belas tahun terjadi, yakni di tahun 1901. Kemudian wartawan itu menterjemahkan Protokolat Zionis itu ke dalam bahasa Inggris dan dicetak pada tahun 1912.
Hingga kini tidak ada satu pun penerbit di Inggris yang berani mencetak Protokolat Zionis itu, karena kuatnya pengaruh mereka di sana. Demikian pula terjadi di Amerika. Kemudian buku itu muncul dicetak di Jerman pada tahun 1919 dan tersebar luas ke beberapa negara. Akhirnya buku itu diterjemah-kan ke dalam bahasa Arab, antara lain oleh Muhammad Khalifah At-Tunisi dan dimuat dalam majalah Mimbarusy-Syarq tahun 1950. Perlu diketahui, bahwa tidak ada orang yang berani mempublikasikan Protokolat itu, kecuali ia berani menghadapi tantangan dan kritik pedas pada koran-koran mereka, sebagaimana yang dialami oleh penerjemah ke dalam bahasa Arab yang dikecam dalam dua koran berbahasa Perancis yang terbit di Mesir.
Setelah melalui proses yang amat panjang akhirnya pada 14 Mei 1948 silam, kaum Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel. Dengan kemerdekaan ini, cita-cita orang orang Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk mendirikan negara sendiri, tercapai. Mereka berhasil melaksanakan “amanat” yang disampaikan Theodore Herzl dalam tulisannya Der Judenstaat (Negara Yahudi) sejak 1896. Tidaklah mengherankan jika di tengah-tengah negara-negara Timur Tengah yang mayoritas menganut agama Islam, ada sekelompok manusia yang berkebudayaan dan bergaya hidup Barat. Mereka adalah para imigran Yahudi yang didatangkan dari berbagai negara di dunia karena mengalami pembantaian oleh penguasa setempat.
Sejak awal Israel sudah tidak diterima kehadirannya di Palestina, bahkan di daerah mana pun mereka berada. Karena merasa memiliki keterikatan historis dengan Palestina, akhirnya mereka berbondong-bondong datang ke Palestina. Imigrasi besar-besaran kaum Yahudi ini terjadi sejak akhir tahun 1700-an. Akibat pembantaian diderita, maka mereka merasa harus mencari tempat yang aman untuk ditempati. Oleh Inggris mereka ditawarkan untuk memilih kawasan Argentina, Uganda, atau Palestina untuk ditempati, tapi Herzl lebih memilih Palestina.
Herzl adalah The Founding Father of Zionism. Dia menggunakan zionisme sebagai kendaraan politiknya dalam merebut Palestina. Kemampuannya dalam melobi para penguasa dunia tidak diragukan lagi. Sederetan orang-orang terkenal di dunia seperti Paus Roma, Kaisar Wilhelm Jerman, Ratu Victoria Inggris, dan Sultan Turki di Istambul telah ditaklukkannya. Zionisme adalah otak dalam perebutan wilayah Palestina dan serangkaian pembantaian yang dilakukan Yahudi.
Dengan berdatangannya bangsa Yahudi ke Palestina secara besar-besaran, menyebabkan kemarahan besar penduduk Palestina. Gelombang pertama imigrasi Yahudi terjadi pada tahun 1882 hingga 1903. Ketika itu sebanyak 25.000 orang Yahudi berhasil dipindahkan ke Palestina. Mulailah terjadi perampasan tanah milik penduduk Palestina oleh pendatang Yahudi. Bentrokan pun tidak dapat dapat dihindari. Kemudian gelombang kedua pun berlanjut pada tahun 1904 hingga 1914. Pada masa inilah, perlawanan sporadis bangsa Palestina mulai merebak.
Berdasarkan hasil perjanjian Sykes Picot tahun 1915 yang secara rahasia dan sepihak telah menempatkan Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris. Dengan berlakunya sistem mandat atas Palestina, Inggris membuka pintu lebar-lebar untuk para imigran Yahudi dan hal ini memancing protes keras bangsa Palestina.
Aksi Inggris selanjutnya adalah memberikan persetujuannya melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917 agar Yahudi mempunyai tempat tinggal di Palestina. John Norton More dalam bukunya The Arab-Israeli Conflict mengatakan bahwa Deklarasi Balfour telah menina-bobokan penguasa Arab terhadap pengkhiatan Inggris yang menyerahkan Palestina kepada Zionis.
Pada tahun 1947 mandat Inggris atas Palestina berakhir dan PBB mengambil alih kekuasaan. Resolusi DK PBB No. 181 (II) tanggal 29 November 1947 membagi Palestina menjadi tiga bagian. Hal ini mendapat protes keras dari penduduk Palestina. Mereka menggelar demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan PBB ini. Lain halnya yang dilakukan dengan bangsa Yahudi. Dengan suka cita mereka mengadakan perayaan atas kemenangan besar ini. Bantuan dari beberapa negara Arab dalam bentuk persenjataan perang mengalir ke Palestina. Saat itu pula menyusul pembubaran gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan pembunuhan terhadap Hasan al-Banna yang banyak berperan dalam membela Palestina dari cengkraman Israel.
Apa yang dilakukan Yahudi dalam merebut Palestina tidaklah terlepas dari dukungan Inggris dan Amerika. Berkat dua negara besar inilah akhirnya Yahudi dapat menduduki Palestina secara paksa walaupun proses yang harus dilalui begitu panjang dan sulit. Palestina menjadi negara yang tercabik-cabik selama 30 tahun pendudukan Inggris. Sejak 1918 hingga 1948, sekitar 600.000 orang Yahudi diperbolehkan menempati wilayah Palestina. Penjara-penjara dan kamp-kamp konsentrasi selalu dipadati penduduk Palestina akibat pemberontakan yang mereka lakukan dalam melawan kekejaman Israel.
Tahun 1956, Gurun Sinai dan Jalur Gaza dikuasai Israel, setelah gerakan Islam di kawasan Arab dipukul dan Abdul Qadir Audah, Muhammad Firgholi, dan Yusuf Thol’at yang terlibat langsung dalam peperangan dengan Yahudi di Palestina dihukum mati oleh rezim Mesir. Dan pada tahun 1967, semua kawasan Palestina jatuh ke tangan Israel. Peristiwa itu terjadi setelah penggempuran terhadap Gerakan Islam dan hukuman gantung terhadap Sayyid Qutb yang amat ditakuti kaum Yahudi. Tahun 1977, terjadi serangan terhadap Libanon dan perjanjian Camp David yang disponsori oleh mendiang Anwar Sadat dari Mesir.
Akhirnya pada Desember 1987, perjuangan rakyat Palestina terhimpun dalam satu kekuatan setelah sekian lama melakukan perlawanan secara sporadis terhadap Israel. Gerakan Intifadhah telah menyatukan solidaritas rakyat Palestina. Intifadhah merupakan aksi pemberontakan massal yang didukung massa dalam jumlah terbesar sejak tahun 1930-an. Sifat perlawanan ini radikal revolusioner dalam bentuk aksi massal rakyat sipil.
Adanya kehendak kolektif untuk memberontak sudah tidak dapat ditahan lagi. Untuk tetap bertahan dalam skema transformasi masyarakat yang menghindari aksi kekerasan, maka atas prakarsa Syekh Ahmad Yassin dibentuklah HAMAS (Harakah al-Muqawwah al-Islamiyah) pada bulan Januari 1988, sebagai wadah aspirasi rakyat Palestina yang bertujuan mengusir Israel dari Palestina, mendirikan negara Islam Palestina, dan memelihara kesucian Masjid Al-Aqsha. HAMAS merupakan “anak” dari Ikhwanul Muslimin karena para anggotanya berasal dari para pengikut gerakan Ikhwanul Muslimin. Perlawanan terhadap Israel semakin gencar dilakukan dan mengakibatkan kerugian material bagi Israel berupa kehancuran pertumbuhan ekonomi, penurunan produksi industri dan pertanian, serta penurunan investasi. Kerugian lainnya yaitu hilangnya ketenangan dan rasa aman bangsa Israel.
Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat dari pada yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di Basle merupakan titik balik dari sejarah usaha perampasan tanah Palestina dari bangsa Arab. Namun hebatnya, para perampas ini tidak dianggap sebagai ”perampok” tetapi malahan dipuja sebagai ”pahlawan” dan bangsa Arab yang melawannya dianggap sebagai ”teroris” dan penjahat yang perlu dihancurkan.
Salah satu kunci untuk memahami semua ini ialah karena sejak Kongres I kaum Zionis sudah mengerti kunci perjuangan abad XX yakni: diplomasi, lobi, dan penguasaan media massa. Herzl sebagai seorang wartawan yang berpengalaman dengan tangkas memanfaatkan tiga senjata andal dalam perjuangan politik abad modern ini. Sejak Kongres I, dia sangat rajin melobi para pembesar di Eropa, mendekati wartawan, dan melancarkan diplomasi ke berbagai negara. Hasilnya sungguh luar biasa. Zionisme lantas diterima sebagai gerakan politik yang sah bagi usaha merampas tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.
Tokoh-tokoh Yahudi banyak terjun ke media massa, terutama koran dan industri film. Hollywood misalnya didirikan oleh Adolf Zuckjor bersaudara dan Samuel-Goldwyn- Meyer (MGM). Dengan dominasi yang luar biasa ini, mereka berhasil mengubah bangsa Palestina yang sebenarnya adalah korban kaum Zionis menjadi pihak ”penjahat”.
Apakah anda tau siapa yang menguasai kantor-kantor berita seperti Reuter, Assosiated Press, United Press International, surat kabar Times dan jaringan telivisi terkenal dunia serta perusahaan film di Holywood? Semuanya adalah bangsa Yahudi. Reuter didirikan oleh Yahudi Jerman, Julius Paul Reuter yang bernama asli Israel Beer Josaphat. Melalui jaringan informasi dan media komunikasi massa inilah mereka menciptakan image negatif terhadap Islam, seperti Islam Fundamentalis, Islam Teroris, dan lain sebagainya. Demikian gencarnya propaganda ini, sampai-sampai orang Islam sendiri ada yang phobi Islam.
Edward Said, dalam bukunya Blaming The Victims secara jitu mengungkapkan bagaimana media massa Amerika menciptakan gambaran negatif bangsa Palestina. Sekitar 25 persen wartawan di Washington dan New York adalah Yahudi, sebaliknya hampir tidak ada koran atau TV Amerika terkemuka yang mempunyai wartawan Arab atau Muslim. Kondisi ini berbeda dengan media Eropa yang meskipun dalam jumlah terbatas masih memiliki wartawan Arab atau muslim. Dengan demikian laporan tentang Palestina di media Eropa secara umum lebih ”fair” daripada media Amerika.
Edward Said yang terkenal dengan bukunya Orientalism (Verso 1978), menguraikan apa yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina merupakan praktik kaum Orientalis yang sangat nyata. Pertama, sejarah ditulis ulang, yakni Palestina sebelum berdirnya Israel ialah: wilayah tanpa bangsa untuk bangsa yang tidak mempunyai tanah air. Kedua, bangsa Palestina yang menjadi korban dikesankan sebagai bangsa biadab yang jadi penjahat. Ketiga, tanah Palestina hanya bisa makmur setelah kaum Zionis beremigrasi ke sana.

Kamis, 19 Januari 2012

Kawasan Pentadbiran Khas Wilayah Macau

 dimiliki Republik Rakyat China (Tulisan Cina Tradisi: 中華人民共和國澳門特別行政區; Tulisan Cina Mudah: 中华人民共和国澳门特别行政区; tulisan pendek Macau atau Macao (澳門, Pinyin: Àomén; secara tidak formal juga dikenali sebagai 馬交); lihat Nama) merupakan suatu wilayah kecil di selatan China yang merupakan salah satu daripada dua Kawasan Pentadbiran Khas selain Hong Kong. Ditadbir oleh Portugal sehingga tahun 1999, ia merupakan koloni Eropah yang tertua di China dan diasaskan pada abad ke-16. Hak memerintah Macau telah dipindah-milik ke Republik Rakyat China pada tahun 1999. Macau memainkan peranan unik sebagai penghubung antara China dan Barat terutama dalam hal-ehwal perdagangan pada pertengahan abad ke-16 sehingga abad ke-19.
Penduduk Macau menggunakan bahasa Kantonis, Mandarin, Portugis dan Inggeris untuk berkomunikasi. Orang Macau merujuk kepada penduduk tetap wilayah ini, akan tetapi secara khusus merujuk kepada etnik campuran Portugis dan Han.
Tarikan Macau selain daripada statusnya sebagai bekas wilayah jajahan Portugis adalah aktiviti perjudian dan kasino. Permainan perjudian yang paling popular merupakan permainan Pai Gow yang dimain dengan domino China meskipun aktiviti perjudian yang lain juga sah di sisi undang-undang. Pejudi-pejudi dari Hong Kong seringkali melawat Macau untuk berjudi sepanjang hari dengan perkhidmatan feri daripada syarikat hidrofoil yang berkhidmat selama 24 jam setiap hari. Orang Cina Malaysia yang kaya juga seringkali ke Macau untuk berjudi.


Nama

Nama "Macau" dipercayai berasal daripada Templo de A-Má (Tokong A-Ma) (媽閣廟, Jyutping Kantonis: Maa1 Gok3 Miu6, dialek local: Maa5 Gok3 Miu6 or Maa5 Gok3 Miu5), suatu bangunan tugu peringatan yang dibina pada tahun 1448 yang didedikasi kepada tuhan Matsu. Bangunan ini masih wujud pada hari ini. Nama China Aomen 澳門 (pinyin: Àomén, Jyutping Kantonis: Ou3 Mun4) bermaksud 'pintu masuk'. 'Pintu' ini merujuk kepada dua gunung yang berbentukkan pagar, iaitu gunung Nantai (南台) dan Beitai (北台). Secara alternatif, Ao berasal daripada nama lama Heung San O, kerana daripada segi geografinya terletak 'di persimpangan pintu'. Macau juga dikenali sebagai Ho King O (壕鏡澳; pinyin: Haojing'ao; "Cermin Kerang Laut Di Dalam"), Heung San O (香山澳; Xiangshan'ao; "Gunung Wangi Di Dalam"), Lin Do (蓮島; Liandao; "Pulau Lotus"), dan "Pelabuhan Soda Berkarbonat" (疏打埠).
Sementara Àomén/Ou3 Mun4 adalah nama China yang tradisional bagi kawasan ini, ia menjadi suatu kebiasaan dikalangan orang China yang menetap disitu menggunakan nama Portugis meskipun dalam dialek Kantonis dengan menyebutnya sebagai Maa3 Gaau1 (sistem rumi Jyutping), yang secara langsung menjadikan ia ditulis sebagai 馬交 dalam tulisan China.
"Macao" merupakan ejaan asal Portugis, dan terus digunakan dalam kebanyakan bahasa Eropah. Dalam bahasa Portugis Moden (berlainan dengan bahasa Portugis tradisi yang dipercakapkan oleh orang Macau dan juga Portugis Kristang di Melaka, Malaysia), ejaan yang betul merupakan "Macau". Pada pertengahan abad ke-20, nama "Macau" lebih kerap muncul dalam media-media Inggeris. Akan tetapi, namanya yang rasmi dalam bahasa Inggeris tetap merupakan "Macao". Dalam bahasa Melayu pula, nama "Macau" diambil daripada bahasa Portugis.
Kerajaan Macau menggunakan nama "Macao" dalam bahasa Inggeris manakala "Macau" merupakan ejaan Portugis dan Melayu. Inilah nama yang digunakan dalam dokumen-dokumen rasmi seperti pasport dan borang imigresen.
Nama pinyin Aomen kadangkala digunakan dalam bahasa Melayu untuk merujuk kepada Macau, seperti ia merupakan ejaan rasmi Macau dalam bahasa Melayu. Ini adalah salah di sisi peraturan alih bahasa DBP dan "Macau" tetap merupakan nama rasmi kawasan ini dalam bahasa Melayu.

Sejarah

Rencana utama: Sejarah Macau
Macau diduduki Portugis pada tahun 1557, tidak lama selepas menawan Melaka pada tahun 1511 dan Timor Timur selepasnya. Bermula pada tahun 1670, Portugal menyewa kawasan ini daripada maharaja China. Tiada pindah hak milik pada masa itu. Macau berkembang sebagai pelabuhan perdagangan antara Portugis dan China dan cuba dikuasai Belanda secara berkali-kali pada abad ke 17.
Selepas Rumah Braganza menawan semula Portugal daripada tangan Pemerintah Sepanyol Habsburgs pada tahun 1640, Macau dinobat sebagai Cidade do (Santo) Nome de Deus de Macau, Não há outra mais Leal atau Bandar yang mempunyai Nama Tuhan Macau, tiada lagi yang lebih setia.
Motto "Tiada lagi yang lebih setia" diberi sempena membalas budi baik Macau yang tetap setia kepada pemerintahan Raja Portugal dan tidak mengiktiraf pemerintahan Sepanyol yang sebelum itu berjaya menawan dan menanluki Portugal. Secara realitinya pemerintah Hasburgs bukannya boleh mengubah keadaan ini pun kerana ia pada masa itu sibuk menghadapi peperangan-peperangan di Eropah. Tambahan pula, kegagalan Belanda menguasai Macau membuktikan bahawa Macau bukanlah bandar yang mudah ditumpaskan.
Dengan Hong Kong diambil oleh British dan dijadikan Jajahan Mahkota, status Macau sebagai pusat perdagangan serantau beransur-ansur luput kerana kapal-kapal lebih menyukai pelabuhan Victoria di Hong Kong yang lebih dalam. Pada tahun 1849, Portugal bertindak sendiri mengistiharkan Macau sebagai bebas daripada China. Akan tetapi kerajaan China yang menghadapi tekanan politik dalaman terpaksa mengiktiraf tindakan ini pada tahun 1887.
Pada tahun 1955, rejim Salazar di Portugal yang menumpaskan pemerintahan monarki di negara itu mengistiharkan Macau bersama dengan jajahan lain Portugal sebagai 'provinsi seberang laut' Portugal.
Walaupun budaya orang Macau merupakan budaya campuran Portugis dan China, ini tidak selalunya menjadi secara amannya, Rakyat China di Macau cuba untuk mendirikan identitinya sendiri untuk menentang pemerintahan Portugal.
Pada tahun 1966, penduduk cuba mendapatkan lesen untuk mendirikan sekolah swasta di Taipa, satu daripada dua pulau yang merupakan sebahagian daripada wilayah Macau. Selepas cubaan mendapat lesen ini gagal berkali-kali, mereka terus melanggar undang-undang dan mula membina sekolah itu. Pada tarikh 15 November 1966, polis Portugis menahan pentadbir sekolah dan memukul para pembina, penduduk awam, dan pemberita-pemberita akhbar. Sejerus selepas itu, rakyat mengadakan tunjuk perasaan di depan rumah Gabenor akan tetapi pada 3 Disember kerajaan mengarahkan mereka ditangkap. Ini menaikkan kemarahan rakyat dan lebih ramai lagi penduduk datang untuk menghadiri demonstrasi. Kerajaan Portugis menghantar polis dan mengistiharkan darurat. Demonstrasi ini menyebabkan 11 orang mati dan 200 cedera.
Untuk menentang secara aman, penduduk China mengadakan "tiga tidak", tidak kepada cukai, tidak kepada perkhidmatan, dan tidak kepada menjual barangan kepada Portugis. Mereka berjaya dan pada 29 Januari 1967 kerajaan Portugis meminta maaf. Ini menandakan bermulanya layanan sama rata terhadap semua dan pengakuan pemerintahan de facto China keatas kawasan Macau.
Selepas pergelutan kuasa di Portugal berakhir pada tahun 1974, kerajaan Portugal menjadi demokrasi dan mahu melepaskan kesemua kawasan tahlukannya di seberang laut. Akan tetapi Republik Rakyat China tidak mahukan penyatuan semula Macau dengan China dalam masa yang singkat. Pada tahun 1976, Lisbon bersetuju menjadikan Macau sebagai Kawasan Istimewa dan menberikan ia kebebasan politik dan ekonomi. Portugal dan Republik Rakyat China bersetuju merujuk kepada Macau sebagai kawasan yang dimiliki China tetapi diperintah sahaja oleh Portugis. Perjanjian pada tahun 1985 memjanjikan pemulangan Hong Kong kepada China, dan perjanjian pemulangan Macau turut ditandatangani pada tahun 1987 dengan status Macau sebagai Kawasan Pentadbiran Khas PRC. Kawasan Pentadbiran Istimewa Wilayah Macau direalisasi pada tarikh 20 Disember 1999.

Kerajaan dan politik

Rencana utama: Politik Macau
pengurus besar dipilih oleh kerajaan Republik Rakyat China selepas melalui komiti pilihanraya, yang ahlinya dicadangkan badan koperat. Pengurus besar berdepan kabinet, Majlis Eksekutif, yang terdiri daripada 7 ke 11 ahli, yang dipenuhi wakil badan koperat. Edmund Ho, ahli perbankan dan satu pemimpin komuniti, merupakan orang pertama pilihan China untuk menjawat jawatan Pengurus Besar, mengantikan GabenorGeneral de Rocha Vieira on December 20, 1999.
Badan perwakilan kawasan ini merupakan Dewan Undangan, yang mempunyai 23 ahli. 10 daripadanya daripada pilihanraya langsung, 10 mewakili kawasan berfungsikan konstituensi, dan tujuh dilantik Pengurus Besar. Badan perwakilan ditugaskan merangka undang-undang, dan mempunyai kuasa membatalkan Pengurus Besar yang sedang bertugas. Ia juga mempunyai kuasa meggubal cara suksessornya dilantik selepas tahun 2009.
Sistem kehakiman secara amnya diteraskan Sistem Kehakiman Portugis. Kawasan ini mempunyai badan kehakiman sendiri dengan mahkamah tertingginya dinamai Mahkamah Rayuan Terakhir (CFA), yang merupakan tempat terakhir merayu kes-kes mahkamah. Hakim dilantik oleh suatu komiti dan Pengurus Besar.

Divisi Pentadbiran di dalam Macau (Versi Bahasa Melayu akan ada pada masa akan datang)

Subdivisi

Secara pentadbirannya, Macau mempuyai dua divisi:
Walaupun "Daerah Utara", secara amnya, merujuk kepada keseluruhan semenanjung Macau, sesetengah penduduk Macau menggunakan nama "Daerah Utara" dengan makna yang lebih sempit. Ia merujuk kepada bahagian utara semenanjung Macau dan jirannya bandar Zhuhai di tanah besar China. Dalam pada ini, penduduk berulang-alik dari tanah besar ke Macau dengan melalui daerah utara.

Geografi

Rencana utama: Geografi Macau
Macau terletak 70 km di baratdaya Hong Kong dan 145 km selatan bandar Guangzhou di provinsi Guangdong. Ia meliputi semenanjung, dan kepulauan Taipa dan Coloane.
Semenanjung terbentuk dari Zhujiang (Sungai Mutiara) estuari di bahagian timur dan Xijiang (Sungai Barat) di bahagian barat. Ia bersempadan dengan bandar Zon Khas Ekonomi Zhuhai di tanah besar China.
Macau mempunyai tanah yang rata hasil pengambilan semula tanah daripada laut akan tetapi bukit-bukitnya menandakan kawasan yang semulajadi dahulukala. Semenanjung Macau pada mulanya merupakan suatu pulau tetapi dihubungkan dengan suatu bar pasir yang menjadi suatu isthmus yang sempit. Pengambilan semula tanah daripada laut yang bermula pada abad ke 17 menjadikan Macau suatu semenanjung.
Dengan penbangunan yang mendadak, Macau tidak lagi mempunyai kawasan yang sesuai untuk aktiviti pertanian. Tiada lagi kawasan yang berpaya, hutan mahupun kawasan berkayu. Disebabkan masalah ini, penduduk Macau kini terpaksa mencari rezeki di lautan.

Ekonomi

Rencana utama: Ekonomi Macau
Ekonomi Macau secara besarnya didasarkan pelancongan, termasuk berjudi, tekstil dan bunga api. Membuat tekstil dan bunga api merupakan sumber ekonomi kedua selepas perjudian. Usaha untuk mempelbagaikan sumber ekonomi mewujudkan beberapa industri lain seperti membuat alat permainan, bunga plastik, dan alatan elektrik. Industri membuat baju menyumbang sebanyak 3/4 eksport, dan sektor perjudian menyumbang sebanyak 40% daripada GDP Macau.
Lebih 8 juta pelancong melawat Macau pada tahun 2000. Sementara perkembangan ekonomi dan sektor pelancongan didominasi pendatang tanah besar China, pelancong dari Hong Kong tetap menjadi sumber nombor satu pendapatan rakyat Macau. Baru-baru ini, aktiviti kongsi gelap yang menjadi masalah kepada kesihatan ekonomi beransur-ansur luput dan ini menandakan masa yang baik untuk ekonomi Macau pada masa akan datang. Pertumbuhan ekonomi diantara tahun 2001 dan 2005 menampakkan kenaikan 10% setiap tahun. GDP per kapita berjumlah sebanyak RM 85,956. Dalam separuh tahun pertama 2005, pengangguran adalah 4.1%.
Hasi perjudian kasino-kasino Macau pada tahun 2004 pada pertama kalinya mengatasi bandar Las Vegas di Amerika dengan setiap satunya memperoleh keuntungan lebih 5 billion dolar Amerika. Ini menjadikan Macau pusat perjudian yang paling utama di dunia!

Demografi

Rencana utama: Demografi Macau
Considered as a dependency, Macau is the world's most densely populated country/dependency.
Populasi Macau merupakan 95% bangsa Han, kebanyakannya Kantonis dan sedikit Hakka, kedua-duanya berasal daripada provinsi Guangdong yang berhampiran. Yang tinggal kebanyakannya etnik Portugis atau berdarah campur Cina-Portugis, ataupun Orang Macau. Terdapat juga sedikit bangsa Jepun, termasuk warisan orang Jepun yang dibuang pemerintah Shogun Jepun terdahulu. Bahasa rasmi merupakan Bahasa Portugis dan Bahasa Cina. Walaupun kawasan Macau terletak di kawasan dialek Kantonis, kedua-dua dialek Kantonis dan bahasa Mandarin mempunyai status rasmi di facto. Bahasa Inggeris juga dipercakapkan di kawasan perlancongan. Bahasa Portugis Lama atau Patua merupakan bahasa yang hampir pupus di kawasan ini.

Sabtu, 03 Desember 2011

Buku-Buku Kutu Buku

Cerpen: Pamusuk Eneste

SEBETULNYA sudah berulang kali istri Kolbuher memperingatkan agar buku-buku di perpustakaan suaminya tidak ditambah lagi. Namun, peringatan itu tampaknya seperti angin lalu saja. Tiap hari ada saja buku yang datang. Tiap hari ada saja majalah atau jurnal yang datang.

"Lama-lama uang pensiunanmu habis untuk membeli buku, Pak," kata sang istri.

"Lo, aku kan tidak beli buku-buku itu, Bu. Mereka yang mengirimi aku buku. Masa aku tolak? Tidak mungkin toh," ujar Kolbuher.

Sejak pensiun beberapa bulan yang lalu, Kolbuher sebetulnya sudah tidak pernah membeli buku. Itu kesepakatan dengan istrinya dan dengan dirinya sendiri.

"Lagi pula, usia Bapak kan sudah lanjut. Kasihan Bapak harus mengurus sendiri buku-buku itu."

"Harusnya memang aku menggaji seseorang untuk mengurus perpustakaanku."

Pada saat lain, istri Kolbuher mengatakan, "Lama-lama perpustakaanmu tidak bisa lagi menampung buku. Jangan-jangan, rumah kita juga bisa tenggelam karena buku-bukumu."

Namun, buku tetap saja mengalir ke rumah Kolbuher. Oleh karena itu, istri Kolbuher malah pernah berkata, "Hati-hati lo, Pak. Suatu ketika Bapak bisa ditelan buku-buku itu."

***

KALAU sudah masuk ke perpustakaan merangkap ruangan kerjanya itu, Kolbuher memang tidak mau diganggu oleh siapa pun. Bahkan oleh istrinya sendiri! Ia juga tidak suka ada orang lain masuk ke ruangan itu meski hanya untuk membersihkan debu atau mengepel lantainya sekalipun. Ia tidak mau ada orang yang memindah-mindahkan susunan buku di perpustakaannya itu. Menurut Kolbuher, "Kalau letak buku di ruangan itu berubah maka aku akan bingung mencarinya nanti bila diperlukan."

Perpustakaan Kolbuher berukuran 4x6 meter. Jendelanya menghadap ke timur. Kalau pagi, ruangan itu memperoleh sinar matahari. Jendela itu dibuka sepanjang hari kecuali jika turun hujan.

Di keempat sisi tembok berdiri rak buku yang terbuat dari kayu, berpetak-petak, dan penuh dengan buku hingga ke langit-langit. Bahkan di lantai depan rak buku itu pun bergeletakan buku yang tidak termuat dalam rak.

Di tengah ruangan menghadap ke jendela, membelakangi pintu masuk, terdapat kursi empuk dan meja kerja Kolbuher. Di meja itu ada komputer. Namun, meja itu pun terasa sumpek karena kiri kanannya penuh dengan buku.

Istri Kolbuher sudah mengingatkan agar buku di meja itu disingkirkan sebagian. Dengan demikian, Kolbuher bisa lebih lega membaca, menulis, ataupun menggunakan komputer.

Namun, Kolbuher cuek saja. Bahkan, Kolbuher juga bergeming ketika istrinya berkata sambil meninggalkan perpustakaan yang sumpek itu, "Suatu saat, buku-buku itu bisa menelanmu hidup-hidup, lo Pak."

***

BUKU-BUKU itu pula yang menyebabkan istri Kolbuher kini berada di kantor polisi. "Ketika Ibu meninggalkan Bapak menuju warung, apakah Bapak masih sehat?" istri Kolbuher mengangguk.

"Waktu itu, Bapak tidak mengatakan apa-apa?"

"Tidak, Pak."

"Barangkali memesan sesuatu dari warung?"

Istri Kolbuher menggeleng lagi.

"Misalnya minta dibelikan rokok?"

"Suami saya tidak merokok, Pak."

"Setahu Ibu, apa Bapak punya penyakit?"

"Setahu saya Bapak tidak mengidap penyakit apa-apa."

"Jantung, misalnya?"

Istri Kolbuher menggeleng.

"Atau penyakit lain barangkali?"

"Tidak."

"Paru-paru?"

Istri Kolbuher untuk kesekian kalinya menggeleng dan kemudian berkata, "penyakitnya cuma satu, Pak...."

"Apa itu, Bu?"

"Penyakitnya suka baca dan dia kutu buku."

***

ISTRI Kolbuher memang tidak habis mengerti. Meski sudah bersepakat untuk tidak membeli satu eksemplar buku pun, koleksi buku Kolbuher tetap saja bertambah dari hari ke hari.

Ada saja pengarang yang merasa tidak afdal kalau tidak mengirimkan buku barunya kepada Kolbuher. Ada saja penerbit yang merasa belum sreg kalau tidak mengirimi Kolbuher buku baru mereka. Ada saja kenalan Kolbuher yang baru pulang dari luar negeri dan mengoleh-olehinya buku. Ada saja tetangga Kolbuher yang bekerja di penerbit dan percetakan yang menghadiahinya buku baru.

"Lha, rumah kita ini jadi kayak perpustakaan saja, Pak," kata istrinya pada suatu ketika.

"Ya, tak apa kan, Bu?"

"Tapi bukumu sudah merayap ke mana-mana, Pak. Ke ruang makan, ke kamar tidur, ke ruang keluarga."

"Ya, tak apa toh Bu? Nanti juga pasti ada gunanya."

Kalau banyak orang bingung menghadapi pensiun, tidaklah demikian dengan Kolbuher.

"Aku sudah merencanakan banyak hal untuk mengisi pensiunku," katanya.

Satu hal yang pasti ingin dilakukan Kolbuher adalah membaca semua buku koleksinya yang tak sempat dibaca selama ini.

Setelah membacai buku itu, rencana lain Kolbuher ialah menulis. Dari membaca buku itu, pasti timbul ide menulis artikel. Kalau dimuat, honornya lumayan untuk menambah uang pensiun. Di samping itu, Kolbuher juga bisa menulis resensi buku. Bukan hanya itu. Kolbuher pun bisa menulis pengalamannya selama menjadi direktur sebuah perusahaan. Misalnya, menulis sekitar manajemen, pengelolaan SDM, dan macam-macam.

Jadi, Kolbuher merasa, ia pasti tidak akan kesepian menjalani masa pensiun. Pasti banyak kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukannya. Apalagi ia masih sering diundang berceramah ke berbagai kampus dan perusahaan untuk 'berbagi pengalaman'.

Kalau bosan membaca, menulis, dan berceramah, Kolbuher pun bisa berkebun. Cukup banyak tanaman di halaman rumahnya. Memotong batang, ranting, dan daun tanaman, serta mengganti tanahnya dan memupuknya, tentulah kegiatan yang juga banyak memakan waktu. Untungnya, Kolbuher senang berkebun dan memelihara tanaman.

"Jadi, mana mungkin aku kesepian," katanya kepada seorang temannya yang pernah mengatakan bahwa orang pensiun itu sering kesepian.

***

SEBELUM pensiun, Kolbuher memang tergolong rajin ke toko buku. Kalau ia menemani istrinya berbelanja ke pasar swalayan di plaza atau mal, Kolbuher selalu menyempatkan diri ke toko buku.

Menurut Kolbuher, kalau sudah ke toko buku, "Rasanya ada yang kurang kalau tidak beli buku. Ibarat ke Yogya tapi tidak ke Malioboro, atau ibarat ke Roma tapi tidak ke Koloseum".

Itu pula yang menjengkelkan istri Kolbuher. Setiap ke toko buku, Kolbuher pasti beli buku (minimal satu buku), padahal istrinya tahu persis buku itu hanya ditumpuk di rumah alias tak pernah dibaca. Bagaimana mau dibaca? Pukul 5.30 pagi Kolbuher sudah meninggalkan rumah dan berangkat ke kantor. Tiba kembali di rumah pukul 18.00, kadang-kadang pukul 19.00, atau bahkan pukul 20.00 (kalau ada rapat mendadak). Sudah capek! Kapan mau baca buku?

"Kalau tak sempat dibaca buat apa beli, Pak?" kata istrinya.

"Siapa tahu bukunya dilarang kelak," jawab Kolbuher. "Jadi, aku tak perlu heboh mencari bukunya kalau nanti diberedel penguasa."

Pada saat lain, Kolbuher memberi alasan lain,

"Siapa tahu buku itu tidak cetak ulang. Jadi, aku sudah punya bukunya."

Istrinya masih belum paham jalan pikiran Kolbuher.

"Kalau tidak dibaca, kita kan cuma buang-buang uang, Pak. Lebih baik ditabung duitnnya. Mana memenuhi rumah lagi, padahal Bapak sendiri tahu, rumah kita sudah penuh dengan buku."

"Nanti akan kubaca setelah pensiun."

***

KOLEKSI buku Kolbuher aneka ragam. Buku apa saja dia koleksi, baik buku antik maupun buku baru. Dia punya buku History of Java Raffles. Ada buku Mein Kampf-nya Hitler. Ada juga Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta edisi 1952. Ada pula novel Siti Nurbaya Marah Roesli cetakan 1922. Ada buku Also sprach Zarathustra-nya Nietzsche. Atlas juga dia koleksi, termasuk atlas kuno semisal Atlas Sejarah karya Muhammad Yamin.

Itu pula yang membingungkan istri Kolbuher.

"Untuk apa sih menyimpan buku-buku kuno itu, Pak? Cuma buang-buang duit dan membuat rumah kita kayak gudang."

"Siapa tahu anak cucu kita nanti membutuhkannya."

"Kalau anak cucu kita tidak membutuhkan, bagaimana?"

"Mungkin tetangga kita membutuhkannya."

"Kalau mereka tidak membutuhkannya?"

"Siapa tahu anggota masyarakat lain membutuhkan. Pokoknya, aku yakin Bu, orang, entah siapa, suatu ketika pasti membutuhkan buku yang aku koleksi ini."

***

DALAM kenyataannya, memang banyak orang yang membutuhkan buku koleksi Kolbuher. Uniknya, Kolbuher selalu rela meminjamkan bukunya tanpa bayar dan tanpa jaminan.

"Lo, kok bisa?" Anda barangkali tak percaya.

"Saya percaya, kalau seseorang meminjam buku saya dan tidak mengembalikannya, orang itu akan kualat dan tak berani datang ke sini lagi," kata Kolbuher.

Memang, semua buku yang dipinjamkan Kolbuher selalu dikembalikan tepat pada waktunya. Tidak pernah ada yang mangkir atau hilang atau sobek halaman-halamannya.

Dengan begitu, banyak orang berutang budi pada Kolbuher. Sering orang mencari buku ke Perpustakaan Kota atau Perpustakaan Nasional, namun tak menemukannya.

"Kalau sudah begitu, bahagia rasanya dapat membantu orang yang memerlukan buku itu," kata Kolbuher.

Namun, istri Kolbuher merasa perilaku suaminya itu malah sia-sia saja.

"Rumah kita jadi kayak perpustakaan umum saja, Pak."

"Tidak apa kan kita membantu orang lain."

"Ya, tapi rumah kita kan jadi ribet terus. Tiap hari saja ada orang yang mencari buku ini dan buku itu."

***

DARI hari ke hari, koleksi buku Kolbuher bertambah terus. Makin lama makin penuh rumahnya. Hanya kamar mandi dan dapur saja yang tidak dikepung buku. Tempat tidur Kolbuher yang bagian kepalanya ada raknya dan bisa diisi buku sampai ke atas pun dipenuhi buku. Pernah suatu malam, Kolbuher terbangun secara mendadak karena kepalanya kejatuhan buku. Pernah pula seorang cucu Kolbuher terpeleset karena kebetulan ada buku yang jatuh. Pada saat lain, seorang tamu pernah menabrak buku ketika hendak ke toilet.

Pendek kata, bagaimana istri Kolbuher menolak bertambahnya koleksi buku di rumahnya, ada saja alasan Kolbuher untuk membantahnya. Sampai-sampai istri Kolbuher kehabisan akal untuk menyetop aliran buku ke rumah mereka. Kata sang istri, "Terserah Bapak saja. Pokoknya, aku sudah peringatkan Bapak, lo. Kalau ada apa-apa, aku tidak tanggung, lo...."

Tak!

Ada sesuatu yang berdetak dalam dada Kolbuher. Kalau ada apa-apa, kata istrinya. Ada apa-apa maksudnya? Kolbuher tidak bisa menduga apa makna kata-kata terakhir istrinya. Ketika Kolbuher mau bertanya, istrinya sudah ngeloyor pergi.

"Saya mau ke warung sebentar," kata istrinya.

***

"BERAPA lama Ibu di warung?" tanya polisi.

"Tidak lama, Pak."

"Kira-kira lima belas menit, Pak."

"Ketika Ibu pulang, apa yang Ibu saksikan?"

"Pintu ruang perpustakaan Bapak tidak bisa dibuka."

"Lantas apa yang Ibu lakukan?"

"Saya ketok-ketok, sambil memanggil-manggil, 'Pak, Pak. Tolong buka pintunya'."

"Apa reaksi Bapak?"

"Tak ada reaksi. Biasanya kalau saya ketok-ketok, Bapak menyahut dari dalam, atau melongok sebentar...."

"Lalu, apa yang Ibu lakukan selanjutnya?"

"Saya ke rumah tetangga."

"Lantas?"

"Tetangga saya sudah melongok dari jendela...."

***

SETELAH beristirahat beberapa menit, karena istri Kolbuher minta minum, polisi melanjutkan pemeriksaan.

"Setelah tetangga melongok dari jendela, apa yang dia lihat?"

"Kata tetangga perpustakaan Bapak seperti baru diguncang gempa hebat. Semua bubrah, berantakan, amburadul, dan berjumpalitan. 'Seperti kapal pecah, Bu', kata tetangga itu."

"Bapak sendiri di mana?"

"Itulah yang tidak saya tahu, Pak."

Polisi diam sebentar.

Lantas, istri Kolbuher hanya mengatakan "jangan-jangan ..." tanpa melanjutkan kata-katanya. Selanjutnya, istri Kolbuher memejamkan mata. Seperti menahan sesuatu yang tak terbayangkan dan tak terduga telah terjadi pada suaminya.

***

KEESOKAN harinya, setelah pintu ruang perpustakaan Kolbuher dibongkar paksa, teka-teki yang menimpa Kolbuher terkuak.

TV 24 menyajikan berita: "Seorang pensiunan telah mati ditelan buku-bukunya. Kejadian itu baru diketahui setelah istrinya pulang dari warung. Ketika istrinya pergi ke warung, suaminya sedang mencari buku di ruang kerjanya yang penuh dengan buku. Entah bagaimana, rak-rak buku di keempat sisi ruangan kerja itu ambruk secara bersamaan waktunya dan menimpa orang yang ada di ruangan itu. Korban yang merupakan kolektor buku kesohor di negeri ini bernama Kolbuher."

Beberapa menit kemudian, SMS di HP orang-orang yang pernah meminjam buku dari Kolbuher secara berantai berbunyi. isi teksnya: "Pak Kolbuher sudah meninggalkan kita semua untuk selamanya. Besok kita melayat ke rumahnya, teman-teman."

Koran Pagi menurunkan kepala berita 'Perpustakaan Hidup Itu Telah Tiada'. Pada Akhir disebutkan, "Negeri ini telah kehilangan kolektor buku ulung dan tak ada tandingannya. Ia meninggalkan seorang istri, 4 anak, 12 cucu." Menurut berita itu, "koleksi buku Kolbuher sudah pantas dijadikan museum tersendiri dan dikelola oleh pemerintah dan swasta. Selain itu, Kolbuher pun pantas dianugerahi Bintang Mahaputra Kelas I karena sumbangannya bagi generasi muda. Banyak orang yang meraih gelar sarjana, megister, dan doktor di negeri ini yang pernah memanfaatkan perpustakaan kolbuher. Secara gratis lagi!"

Tabloid Kesohor memberitakan bahwa setelah polisi memeriksa perpustakaan Kolbuher, polisi sampai pada kesimpulan bahwa tiang penyangga keempat rak buku ternyata keropos akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Berita itu ditutup dengan kalimat, "Dengan demikian, sangkaan polisi bahwa istrinya dengan sengaja membunuh Kolbuher tidaklah terbukti."

Rumah Kolbuher memang terletak sekitar 50 meter dari pinggir sungai yang selalu menerima limpahan air dari Bogor-Puncak, yang hutannya banyak ditumbuhi beton dan pohon-pohonnya banyak ditebangi secara liar.

Jakarta, 4 September 2002
posted by imponk | 3:45:00 AM
Sunday, September 15, 2002
Percakapan Patung-Patung
Cerpen: Indra Trenggono

BULAN sebesar semangka tersepuh perak, tergantung di langit kota, dini hari. Cahayanya yang lembut, tipis berselaput kabut, menerpa lima sosok patung pahlawan yang berdiri di atas Monumen Joang yang tak terawat dan menjadi sarang gelandangan. Cahaya bulan itu seperti memberi tenaga kepada mereka untuk bergerak-gerak, dari posisi mereka yang berdiri tegak. Mereka seperti mencuri kesempatan dari genggaman warga kota yang terlelap dirajam kantuk dalam ringkus selimut.

Lima patung yang terdiri dari tiga lelaki dan dua perempuan itu, menggoyang-goyangkan kaki, menggerakkan tangan, kemudian duduk dan bahkan ada yang tiduran. Mungkin, mereka sangat letih karena selama lebih dari empat puluh tahun berdiri di situ. Wajah mereka yang kaku, dengan lipatan-lipatan cor semen yang beku pun kerap bergerak-gerak seperti orang mengaduh, mengeluh, menjerit dan berteriak. Tentu, hanya telinga setajam kesunyian yang mampu mendengarnya.

"Dulu, ketika jasad kita terbujur di sini, kota ini sangat sunyi. Hanya beberapa lampu berpendar bagai belasan kunang-kunang yang membangunkan malam. Kini, puluhan bahkan ratusan lampu, bependar-pendar seterang siang. Negeri ini benar-benar megah," ujar patung lelaki yang dikenal dengan nama Wibagso sambil mengayun-ayunkan senapannya.

"Tapi lihatlah di sana, Bung Wibagso. Kumpulan gelandangan tumpang-tindih bagi jutaan cendol sedang makan bangkai anjing dengan lahap. Dan di sana, lihatlah deretan gubug-gubug reyot menyatu dengan gelandangan yang berjejal bagai benalu menempel di tembok gedung-gedung. Mulut mereka menganga menyemburkan abab bacin serupa aroma mayat, mengundang jutaan lalat terjebak di dalamnya. Ya, Tuhan, mereka mengunyah lalat-lalat itu..." desis patung lelaki bernama Durmo.

Ratri, patung perempuan yang dulu dikenal sebagai mata-mata kaum gerilyawan, menukas, "Itu biasa rekan Durmo. Dalam negeri yang gemerlap, selalu dirawat kemiskinan sebagai ilham bagi kemajuan. Kita mesti bangga, negeri ini sangat kaya. Lihatlah di sana deretan rumah mewah menyimpan jutaan keluarga bahagia. Ada mobil-mobil mewah, ada lapangan golf pribadi, bahkan ada pesawat terbang pribadi... Dan lihatlah di sana, orang-orang berdansa-dansi sampai pagi. Yaaa... ampun malah ada yang orgi..."

Patung Sidik, yang sejak tadi menyidik dunia sekitar dengan mata nanar melenguh bagai sapi di ruang jagal, "Ternyata mereka hanya sanggup mengurus perut dan kelamin mereka sendiri. Aku jadi menyesal, kenapa dulu ikut memerdekakan negeri ini."

"Aku pun jadi tidak lagi pede sebagai pahlawan," timpal Durmo, "Kita bediri di sini tak lebih dari hantu sawah. Ternyata mereka tak sungkan apalagi hormat kepada kita. Buktinya, mereka menggaruk apa saja."

"Kamu jangan terlalu sentimentil. Aku rasa mereka tetap hormat kepada kita. Buktinya, mereka membangunkan kita monumen yang megah," tukas Wibagso.

Tapi kenapa kita hanya diletakkan di sini, di tempat njepit ini. Mosok monumen pahlawan kok cuma dislempitkan," gugat patung perempuan bernama Cempluk, yang dulu dikenal sebagai pejuang dari dapur umum.

Angin bertiup mengabarkan hari sudah pagi. Gelandangan-gelandangan yang tidur melingkar di kaki monumen itu menggeliat. Mulut mereka menguap kompak. Aroma abab bacin yang membadai dari sela gigi-gigi kuning, menguasai udara sekitar. Tercium oleh para patung pahlawan. Sontak mereka serempak berdiri, dan masing-masing kembali pada tempatnya, sebelum keheningan pagi dirajam hiruk-pikuk kota, sebelum udara bersih pagi dicemari deru nafas kota yang keruh.

Dalam posisi asal, patung-patung pahlawan itu terus bergumam. Tapi hanya telinga setajam kesunyian yang mampu menangkapnya.

YU Seblak, pelacur senior yang dikenal sebagai danyang alias "penunggu" monumen itu, duduk takzim di kaki monumen. Tangannya di angkat di atas kepala. Tergenggam dupa yang mengepulkan asap. Kepulan asap itu menari-nari mengikuti gerak tangan Yu Seblak. Ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Gerakan Yu Seblak diikuti lima-enam orang yang duduk di belakang perempuan berdandan menor itu. Yu Seblak bergumam meluncurkan kata-kata mantera.

"Aku mendengar ada banyak orang mendoakan kita. Mereka memberi kita sesaji. Ada bunga-bunga, ada jajan pasar, ada juga rokok klembak menyan," Mata Wibagso terus mengikuti upacara yang dipimpin Yu Seblak.

"Kurang ajar! Kita dianggap dhemit! Malah ada yang minta nomer buntut segala! Ini apa-apaan Wibagso!" teriak Durmo.

"Ssssttt. Tenanglah. Apa susahnya kita membikin mereka sedikit gembira. Anggap saja ini intermezzo dalam perjalanan kita menuju jagat keabadian," ujar Wibagso.

"Tapi kalau pahlawan sudah disuruh ngurusi togel itu kebangeten!" protes Cempluk.

"Hidup mereka gelap rekan Cempluk. Mereka hanya bisa mengadu kepada kita, karena yang hidup tak pernah mengurusi nasib mereka. Justru menghardik mereka...," tukas Ratri.

Yu Seblak terus mengucapkan doa dalam irama cepat, diikuti orang-orang di belakangnya. Selesai memimpin doa, Yu Seblak menerima berbagai keluhan para "pasiennya".

"Wah kalau pahlawan disuruh ngurusi garukan pelacur, ya enggak bisa. Punya permintaan itu mbok yang sopan gitu lho..."

"Habis, saya selalu kena garuk, Yu. Jadinya 'dagangan' saya sepi. Ehhh siapa tahu, para petugas ketertiban kota itu takut dengan Kanjeng Wibagso dan semua pahlawan di sini. Tolong ya... Yu..." ujar Ajeng, perempuan berparas malam itu, sambil menyerahkan amplop di genggaman Yu Seblak.

"Yaahhh akan saya usahaken. Semoga saja Kanjeng Wibagso dan rekan bisa mempertimbangken..."

Wibagso tersenyum. Sidik manggut-manggut. Durmo tampak tersinggung.

"Mereka ini payah. Garuk-menggaruk itu kan bukan urusan kita. Mestinya mereka mengadu ke anggota dewan..."

"Ah anggota dewan kan lebih senang kasak-kusuk untuk saling menjatuhkan...," ujar Sidik.

"Tampung saja keluhan itu," sahut Wibagso.

"Tapi urusan kita banyak, Bung! Kita masih harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita selama hidup. Jujur saja, waktu berjuang dulu, aku menembaki musuh tanpa ampun seperti aku membasmi tikus," mata Durmo menerawang jauh.

"Perang memungkinkan segalanya, Bung. Kita tidak mungkin bersikap lemah lembut terhadap musuh, yang mengincar nyawa kita. Kita membunuh bukan demi kepuasan melihat mayat-mayat mengerjat-ngerjat karena nyawanya oncat. Kita hanya mempertahankan hak yang harus digenggam," Wibagso mencoba menghibur Durmo.

"Kita yakin saja, malaikat penghitung pahala pasti mencatat seluruh kebaikan kita," Ratri menimpali.

Dari penjual rokok di seberang jalan, sayup-sayup terdengar warna berita dari radio: "Monumen Joang untuk mengenang lima pahlawan yang gugur dalam pertempuran Kota Baru melawan pasukan Belanda akan dipugar. Status mereka pun sedang diusulkan untuk ditingkatkan dari pahlawan kota telah menyiapkan anggaran sebesar tiga milyar." Lima patung itu mendengarkan berita dengan takzim. Wibagso meloncat girang. Ratri menari-nari. Cempluk hanya diam terpekur. Durmo masih dibalut perasaan gelisah. Sidik berdiri mematung, meskipun sudah sangat lama jadi patung.

"Kenapa kalian hanya diam? Berita itu mesti kita rayakan!" ujar Wibagso.

"Untuk apa? Aku sendiri tak terlalu bangga jadi pahlawan. Ternyata negeri yang kumerdekakan ini, akhirnya hanya menjadi meja prasmanan besar bagi beberapa gelintir orang. Sedang jutaan mulut yang lain, hanya menjadi tong sampah yang mengunyah sisa-sisa pesta," ujar Sidik.

"Itu bukan urusan kita, Bung. Tugas kita sudah selesai. Kita tinggal bersyukur melihat anak cucu hidup bahagia," sergah Wibagso.

"Tapi jutaan orang-orang bernasib gelap itu terus menjerit. Jeritan mereka memukul-mukul rongga batinku."

"Ah, sudah jadi arwah kok masih perasa."

"Tapi perasaanku masih hidup!"

"Untuk apa memikirkan semua itu. Kalau masih ada yang kurang beruntung, itu biasa. Hidup ini perlombaan. Ada pemenang, ada juga pecundang!"

"Jangan-jangan kamu ini kurang ikhlas berjuang, Bung Sidik," timpal Ratri.

"Kurang ikhlas bagaimana? Kakiku yang pengkor ini telah kuberikan kepada hidup. Bahkan jantungku telah menjadi sarang peluru-peluru musuh. Mereka memberondongku tanpa ampun hingga tubuhku luluh latak bagai dendeng."

"Ooo kalau soal itu, penderitaanku lebih dahsyat. Kalian tahu, ketika aku merebut kota yang dikuasai musuh, puluhan peluru merajamku. Tapi aku puas, karena berkat keberanianku, nyali kawan-kawan kita terpompa dan akhirnya berhasil memenangkan pertempuran. Ini semua berkat aku!"

"Enak saja kau bilang aku," sergah Durmo. "Dalam pertempuran merebut Kota Baru itu, aku dan Sidik yang berdiri paling depan. Menghadapi musuh satu lawan satu. Kamu sendiri, lari terbirit-birit ke hutan dan ke gunung. Dan kamu, tanpa malu, menyebut sedang bergerilya!"

"Tapi akulah yang punya ide untuk menyerang. Aku juga yang memimpin serangan fajar itu!"

"Siapa yang mengangkatmu jadi pemimpin, Wibagso? Siapa? Waktu itu, kita tak lebih dari pemuda yang hanya bermodal nyali. Tak ada jabatan. Tak ada hierarki. Apalagi pimpinan produksi perang!" hardik Durmo.

"Tapi perang tidak hanya pakai otot, Bung! Perang juga pakai otak. Pakai strategi!" Napas Wibagso naik-turun.

"Tapi strategi tanpa nyali bagai kepala tanpa kaki!" kilah Durmo.

"Bung Wibagso," tukar Sidik, "Kenapa kamu sibuk menghitung-hitung jasa yang sesungguhnya hampa?!"

Bulan mengerjap, seperti tersentak. Wajah Wibagso memerah.

"Sidik! Belajarlah kamu menghargai jasa orang lain. Jangan anggap kamu paling pahlawan di antara para pahlawan!"

"Kapan aku membangga-banggakan diri? Kapan? Kamu ingat, waktu berjuang dulu, aku justru menghilang ketika ada Panglima Besar mengunjungi kawan-kawan kita yang berhasil menggempur musuh. Kalau aku mau, bisa saja aku mencatatkan diri menjadi prajurit resmi. Dan aku yakin, ketika negeri ini merdeka, aku mampu jadi petinggi yang bisa mborongi proyek. Tapi, puji Tuhan, maut keburu menjemputku," ujar Sidik.

"Begitu juga aku," sergah Durmo, "Aku berpesan kepada anak-anakku, kepada seluruh keturunanku, untuk tidak mengungkit-ungkit jasa kepahlawananku, demi uang tunjangan yang tak seberapa banyak. Itu pun masih banyak potongannya!"

"Munafik. Kalian ini munafik!" bentak Wibagso.

Bulan kembali mengerjap. Angin terasa mati.

Napas kota kembali berhembus. Jantung kota kembali berdegup. Gelandangan, pelacur dan copet kembali menggeliat. Mulut mereka kompak menguap menyemburkan abab bacin penuh bakteri.

"Aku yakin, kalau monumen ini jadi dipugar, kita akan kehilangan tempat," ujar Kalur, pencopet bertubuh tinggi kurus itu.

"Kita harus turun ke jalan. Kita kerahkan semua gelandangan di kota ini. Kita demo besar-besaran!" timpal Karep yang dijuluki "gelandangan intelektual" karena gemar mengutip kata-kata gagah.

Percakapan mereka dihentikan suara radio milik Yu Seblak yang menyiarkan warta berita: "Drs Ginsir, Kepala Kotapraja yang menggantikan RM Picis, membatalkan rencana pemugaran Monumen Joang. Menurut Drs Gingsir, proyek itu mubazir. Bertenangan dengan azas kemanfaatan bagi publik. Apalagi pengajuan perubahan status menjadi pahlawan nasional, ditolak Tim Pakar Sejarah Nasional. Dana sebesar tiga milyar dialihkan untuk memberikan bantuan pangan kepada masyarakat prasejahtera."

Gelandangan-gelandangan sontak bersorak. Mereka menari. Beberapa orang menenggak minuman oplosan alkohol. Bahkan ada yang mencampurinya dengan spritus. Jantung mereka berdetak cepat. Gerakan tubuh mereka semakin rancak, semakin panas.

Bulan pucat di angkasa berselimut kabut. Kota kembali tidur. Tapi di sebuah gedung pemerintahan kotapraja, tampak lampu masih menyala.

"Saya setuju saja, jika Den Bei Taipan mau bikin mall di sini," ujar Drs Ginsir sambil minum anggur.

"Terima kasih... terima kasih. Bapak Ginsir ternyata welcome. Eeee soal pembagian keuntungan, itu dinegosiasikan. Biasanya, 30:60." Den Bei menenggak anggur merah.

"Tapi tunggu dulu, Den Bei. Saya mesti mengusulkan masalah ini pada Dewan. Dan biasanya itu agak lama. Maklum..."

"Eeee bagaimana kalau 35:65. Tidak ada konglomerat gila macam saya."

"Tapi masih banyak konglomerat lain yang lebih gila, Den Bei..."

"Bagaimana kalau 40:60. Ini peningkatan yang sangat progresif."

"Well...well...well... Saya kira Den Bei bisa bikin mall tidak hanya satu. Tanah di sini masih sangat luas."

"Bapak ini ternyata cerdas. Setidaknya, mendadak cerdas."

Keduanya tertawa berderai.

"Den Bei tinggal pilih. Alun-alun, bekas benteng Rotenberg atau di Monumen Joang."

"Semuanya akan saya ambil."

"Terima kasih. Sulaplah kota kami ini jadi metropolitan."

Keduanya berjabat tangan.


***

"PENGKHIANAT! Culas! Licik dan sombong! Penguasa demi penguasa datang, ternyata hanya bertukar rupa. Mereka tetap saja menikamkan pengkhianatan demi pengkhianatan di tubuh kita!" Wibagso menggebrak, hingga tubuh monumen bergetar.

"Mereka menganggap kita sekadar bongkahan batu yang beku. Mereka hendak menggerus kita menjadi butiran-butiran masa silam yang kelam!" hardik Ratri.

Sidik, Durmo, dan Cempluk tersenyum.

"Kenapa kalian hanya diam? Kita ini hendak diluluhlantakkan. Lihatlah buldoser-buldoser itu datang. Berderap-derap. Kita harus bertahan. Bertahan!" teriak Wibagso.

Di bawah monumen, Yu Seblak memimpin penghadangan penggusuran. "Kita harus bertahan! Kita lawan buldoser-buldoser itu! Ajeng, Karep, Kalur, di mana kalian?" teriak Yu Seblak.

"Kami di sini. Di belakangmu!" jawab mereka kompak.

"Kita lawan mereka. Kita pertahankan liang-liang kita. Lebih baik mati daripada selamanya dikutuk jadi kecoa!"

Deru buldoser-buldoser mengepung monumen. Beberapa orang berseragam memberi aba-aba. Buldoser-buldoser terus merangsek.

"Lihatlah, mereka yang hanya gelandangan saja membela kita. Mestinya kalian malu!" hardik Wibagso.

"Wibagso! Kalau kami akhirnya melawan mereka, itu bukan untuk membela kepongahan kita sebagai pahlawan. Tapi membela mereka yang juga punya hak hidup!" teriak Sidik.

"Aku tak butuh penjelasan. Tapi butuh kejelasan sikap kalian untuk melawan mereka Ratri, meloncatlah kamu. Dan masuklah ke ruang kemudi. Cekik leher sopir-sopir itu. Cempluk, tahan moncong buldoser itu. Ganjal dengan tubuhmu. Sidik, dan kamu Durmo hancurkan mesin buldoser-buldoser itu. Cepat!" Wibagso mengatur perlawanan seperti ketika menghadapi tentara-tentara penjajah.

Buldoser terus merangsek. Meluluhlantakkan badan monumen. Menerjang orang-orang yang mencoba bertahan. Kalur, Karep, Ajeng, dan orang-orang lainnya lari lintang pukang.

"Kalian benar-benar pengecut!" teriak Yu Seblak.

"Sia-sia melawan mereka! Mereka ternyata buaanyaakkk sekali!" teriak Kalur.

"Kita menyingkir saja. Pahlawan saja mereka gilas, apalagi kecoa makam kita! Menyingkir... Menyingkir saja!!!" Karep mencoba menarik Yu Seblak yang berdiri beberapa sentimeter dari moncong-moncong buldoser. Tapi Yu Seblak tetap bertahan, sambil terus mengibar-ngibarkan kain dan kutangnya. Tak ada yang menahan Yu Seblak untuk telanjang. Buldoser-buldoser itu dengan rakus dan bergairah menggilas tubuh Yu Seblak. Tubuh kuning langsat itu bagaikan buah semangka yang dilumat blender.

Wibagso tersentak. Ratri menjerit histeris. Durmo dan Sidik berteriak-teriak penuh amarah. Mereka mencoba menghadang buldoser-buldoser itu. Tapi mesin penghancur itu terlalu kuat buat dilawan. Patung-patung itu dilabrak dan dihajar hingga lumat.

Bulan di angkasa mengerjap, Angin mati.

"Kalian telah membunuh kami untuk yang kedua kalinya..." ujar Wibagso lirih. Ucapan itu terus bergema, hingga mall itu selesai dibangun, dan diresmikan Kepala Kotapraja, Drs Gingsir. Hingga kini, suara-suara itu terus mengalun. Tapi hanya telinga setajam kesunyian yang mampu mendengar gugatan itu.*

Jogja, awal Juli 2002 (Terima kasih untuk Joko DH dan Menthol Hartoyo)

Cinta Dan Sahabat

Cinta dan sahabat, dua hal yang tak mudah ntuk dimengerti. Kadang bisa sangat berarti, namun dalam hal itu bisa membuat luka teramat perih. Aku adalah orang yang berada di tengah-tengah cinta dan sahabat itu. Kini, aku yang begitu merindukan hadirnya seorang kekasih, dalam hangatnya persahabatanku dengan Sisil yang lebih muda satu tingkat dariku.

Tiga minggu di awal semester satu...aku duduk di bangku kelas XII, seabrek kegiatan pun kulalui tanpa kuharus memikirkan cinta menurutku itu hanya membuatku lelah.
Namun, pertemuan itu membuatku melupakan suatu hal, aku yang larut dalam perasaanku terhadap Alan. Aku terlalu bodoh karena terlalu jatuh hati pada orang yang salah, jatuh hati pada orang yang tak pernah menyimpan cinta padaku. Aku tak begitu saja menyalahkannya! Dia tak patut untuk disalahkan, dia hanya korban dari cintaku dan dia terlalu baik mau mengerti akan cintaku padanya.

Dan terlalu naif bila kini aku harus menyesal karena mengenalnya. Karena dia aku dapat merasakan hal terindah, walaupun hanya sekejap. Aku terlalu naif hingga aku pun tidak menyadari Sisil merasakan juga perih yang kurasa. Sisil sahabatku orang yang kupercaya seutuhnya, orang yang selalu berusaha ada untukku. Kini, telah terluka karena keegoisanku.

Seharusnya aku tak pernah hadir di antara Alan dan Sisil. Bila akhirnya luka ini yang kurasa.
Andai saja kusadari dari awal, andai saja ku lebih mengerti mereka, andai saja aku tidak jatuh hati pada Alan, Alan dan Alan. Orang yang kucintai dan selalu ada dalam hatiku walau hati ini terasa perih, kudapat mengerti tak ada gunanya kubertahan di sisimu, karena ternyata kau lebih menginginkan Sisil mengisi hari-harimu. Aku di sini yang begitu tulus mencintaimu dan aku yang selalu berusaha ntuk mengerti dirimu kan selalu menanti dan menata hati lagi hingga bayanganmu pergi hingga tak ada lagi luka kurasa, hingga tak ada lagi kecewa yang terasa.
Aku di sini kan selalu berusaha tegar menjalani hari-hariku, aku kan selalu berusaha tersenyum agar kau bisa bahagia bersama Sisil sahabatku. Walaupun dia telah merebutmu, kisahku dan dia dulu takkan pernah kulupa, dia tetap sahabatku, percayalah dengan sisa kesedihanku ini.

Kumasih dapat bertahan hingga kelak kau mengerti bahwa aku memang mencintaimu. Aku memang menyayangi, tapi aku tak rela tersakiti olehmu saat ini, esok dan sampai kapanpun.
Pertemuan itu berawal dari perkenalanku dengan Alan, seorang cowok yang aku kenal dari temanku, Marcell. Perkenalan yang terbilang singkat juga, aku mulai merasakan getaran cinta itu. Rasa itu mulai menerangi kembali tahta hatiku yang telah lama ditinggal pergi oleh seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupku dulu. Yang sampai saat ini pun aku belum bisa melupakannya.

Alan yang telah hadir untuk mengisi hari-hariku pun membuatku terlelap akan rasa bahagia itu, hingga akupun tak pernah menyadari ternyata semua kebahagiaan itu palsu. Alan orang yang kucintai dengan tulus ternyata datang hanya untuk menyakiti dan menorehkan luka. Luka yang teramat dalam di hatiku. Pertemuan itu juga yang telah menghancurkan semuanya. Hidupku yang begitu indah yang begitu berwarna menjadi hancur akan hadirnya!

Malam itu aku dan Alan sepakat untuk memadu kasih, merajut asa dan menggapai cita berdua. Aku belum pernah merasakan sebahagia ini, aku begitu merasa begitu beruntung bisa dicintai oleh orang yang kucintai. Hari-hari bahagia pun mulai kami lalui. Alan begitu indah di mataku yang membuatku lupa akan segalanya, bila bersamanya. Itu juga yang membuatku merelakan tahta hatiku dipenuhi oleh cintanya, namun lagi-lagi kenyataan tak selalu berjalan sesuai dengan yang kuharapkan.

Minggu pertama hubungan cintaku bersama Alan mulai goyah, Alan mulai berubah dan tidak lagi Alan yang selalu tersenyum untukku. Alan tidak juga bersifat manis padaku, setiap tutur katanya yang menyejukkan hatiku kini terasa mengiris-iris hatiku. Apa yang telah kulakukan padanya hingga dia begitu tega padaku, aku begitu percaya padanya hingga aku pun terluka olehnya.

Hubungan ini berakhir begitu saja, pertemuan singkat itu menjadi menyakitkan. Sahabat pun menjadi pelarian sedih dan kecewa, tapi sahabatku tega mengkhianatiku. Dia yang ternyata merebut Alan dariku, dia merenggut semua kebahagiaanku . Persahabatan yang telah bertahun-tahun kubina bersamanya pun menjadi tak berarti. Aku lelah dengan semua ini hingga aku sempat memutuskan tali persahabatan itu, egoiskah aku?

Aku hanya belum bisa berpikir jernh saat itu, aku merasa semakin tolol, seharusnya kubisa merelakan Alan dan Sisil untuk bersama. Karena mungkin kebahagiaan Alan hanya ada pada Sisil! Aku belum siap kehilangan kebahagiaan itu, aku masih ingin disayangi walau semua itu hanya kebohongan. Aku tak mau merasakan sakit hati ini lagi. Akankah sakit ini akan terganti saat ku melihat kebahagiaan orang yang kucintai dan Sisil sahabatku.

Kini dalam setiap hari-hari sepiku, dalam kesendirianku, aku hanya bisa berharap aku kan memiliki kekasihku lagi, memiliki dia yang telah pergi, karena aku kan selalu mencintainya. Aku kan selalu mengenangnya di dalam hatiku,karena dia telah datang dan pergi dengan menghiasi setiap sudut didalam hatiku dengan cintanya yang sesaat, dan Sisil sahabatku buatlah cintaku bahagia karena kalian begitu berarti untukku...***

--------------------------

Sabtu, 29 Oktober 2011

DIAGRAM KORD